Kolonialisasi Media Televisi

Home / Communication / Kolonialisasi Media Televisi

Kolonialisasi Media Televisi

 

Komunikasi Univ. Muhammadiyah Jogjakarta. Buku ini disajikan dalam versi kumpulan  artikel opini dengan mengusung berbagai topik yang mengulas berbagai program tayangan di berbagai stasiun televisi nasional di Indonesia. Buku ini juga mendeskripsikan banyak hal tentang bagaimana media televisi melakukan kolonialisasi , dan pelanggaran etika dalam menayangkan program berbagai program acaranya.  Tidak bisa dihindari bahwa kolonialisme media televisi merupan satu bentuk penjajahan yang dilakukan oleh program tayangan televisi kepada audiensnya saat ini. Pada dua ratus lembar halaman keseluruhan yang tersaji dalam buku ini , kita dibawa pada satu sketsa yang mendeskripsikan beberapa program televisi yang cukup sukses dan mendapat perhatian para penonton televisi. Tetapi patut dicermati bahwa keunggulan suatu acara ternyata tidak diimbangi dengan etika dan regulasi peraturan dan Undang Undang Penyiaran.  Gambaran selera masyarakat secara nasional juga tampak terwakili dalam berbagai ulasan program  yang diangkat dalam bentuk kajian analisa opini dalam buku ini. Tentu saja, kita tidak bisa menilai baik buruknya sebuah program acara dengan menjadikan buku ini sebagai rujukan. Namun paling tidak, melalui buku ini kita memahami bagaimana sebuah program acara menghasilkan dampak yang luar biasa bagi pemirsanya,cermat dan menarik untuk dikritisi bagaimana sebuah acara di produksi, ditayangkan dan diulas sebagai bagian dari kajian aspek studi kajian sosial masyarakat,hukum dan media massa.

Melihat wajah asli tayangan media televisi lokal , tersosok jelas saat membaca tuturan tulisan di dalamnya. Kolonialisasi Media Televisi, Kumpulan kajian sarat kritisi, nilai dan realita hasil karya beberapa mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Univ Muhamadiyah Jogjakarta ini memberikan gambaran bagaimana program televisi menjadi satu trend selera favorit . Sebuah ide menarik ketika para mahasiswa Kelas Hukum Media Massa mengkritisi berbagai tayangan acara specific di media televisi dan menjadikannya kumpulan kajian dengan satu simpulan yang identik bahwa media televisi kini telah mengimperialisme masyarakat . Tidak sampai disitu, kajian menarik lainnya yang dapat ditemui dalam penulisan ini ,kenyataannya media televisi telah begitu luwesnya mampu mempengaruhi aspek dimensi kehidupan pemirsanya.

Tayangan televisi saat ini semakin beragam, analogikan saja stasiun televisi sebagai kedai es krim aneka rasa menarik dengan varian rasa dan warna. Penonton dengan mudahnya dapat memilih dan menikmati seleranya tanpa harus melakukan reward dengan membayar pajak televisi seperti yang pernah terjadi pada era 80-an. Televisi bukan lagi barang mewah yang hanya dapat di miliki kalangan tertentu. Boleh dikatakan saat ini tak ada batasan dan pemisahan selera segmentif pada setiap program tayangan yang disajikan oleh lebih dari sepuluh stasiun lokal yang ada saat ini. Kompetisi tak terhindarkan, masing masing stasiun tv berlomba menyajikan acara yang menarik , bahkan sebuah stasiun televisi tanpa etik melakukan plagiat dengan membuat program serupa yang memperoleh rating tinggi di stasiun kompetitornya.  Iklim ini tentu saja tak mengenakkan,namun tanpa melakukan itu sulit bagi stasiun televisi untuk mampu merebut dan menebar pesona pada masyarakat. Contoh saja program infotainment, dalam tulisan Falingga Galang Asa di buku ini, infotainment saat ini tidak hanya wadah artis untuk mengeksiskan diri mereka, namun infotaiment saat ini terbuka oleh seseorang yang  bukan selebriti namun memiliki pautan masalah dengan seorang artis atau pejabat kini bisa menikmati manisnya menjadi terkenal, dikerubuti wartawan dan diinterview sana sini . Infotainment sukses menggemakan nama seseorang yang bukan apa apa untuk dikenal bahkan seringkali membuat mereka kaya mendadak dampak dari kepopuleran akibat infotainment. Mirisnya, hampir semua program infotaiment di semua televisi lokal menayangkan content yang sama dalam waktu yang sama dengan isi yang nyaris tak berubah. Sang “biasa” melompat ke ranah hiburan dengan menjadi penyanyi, bintang tamu talkshow, sinetron dan film. Tak patut sebenarnya kita menyalahkan stasiun televisi yang banyak  menyajikan infotainment , justru masyarakat berandil besar menjadikan program infotainment tetap jaya tertayang di hampir semua stasiun televisi. Masyarakat senang menikmati itu. Masyarakat menunggu ingin melihat ending dari suatu kasus yang  dikupas “tajam”, meminjam istilah salah satu program infotainment namun sungguh sebenarnya tak menimbulkan efek apapun kecuali pemenuhan hasrat keingintahuan yang sama sekali bukan hal penting untuk dipikirkan. Tetapi yang unik dan menarik untuk dikaji adalah tayangan infotainment masih menjadi tayangan favorit pilihan untuk ditonton, meskipun gambar yang disajikan hanya berupa suntingan suntingan dari program sejenis sebelumnya yang disusun ulang dengan menggantinya dengan narasi yang berbeda.  Tapi nyatanya program ini tetap mendapat hati dari pemirsanya. Terbukti program infotainment menjadi program acara “wajib’ untuk di jadikan menu acara setiap hari di hampir semua stasiun televisi.

Sinetron, sebuah program yang diperkenalkan pada awal 90 an dan sempat menjadi raja program di kisaran tahun yang sama. Kini telah lebih dari dua dasawarsa sinetron masih tetap mengisi ranah hiburan di televisi,walau kilaunya sedikit meredup dibandingkan dengan program genre terbaru yang muncul lebih kini, seperti reality show talkshow, komedi situasi dan feature programme. layak di cermati tayangan sinetron kini jauh bergeser dari makna dan tema yang diangkat menjadi judul sinetron. Tayangan jenis religi sinetron sebagai contoh, paparan artikel Aditya Yanuar dan Arief Rachman dalam buku ini yang mengangkat topik Sinetron: Kekerasan Tiada Batas Dibalut Religi. Sinetron religi yang kini tak lagi ditayangkan hanya di bulan Ramadhan menjadi satu topik menarik untuk diamati. Sinetron berciri ini kerap menampilkan para tokoh yang digambarkan jelas dalam karakter lugas. Menampilkan tokoh ustadz muda rupawan , karakter pak “haji” yang iri hati, tokoh tokoh perempuan dengan karakter kontradiktif berbaur dalam runutan kisah yang “diharapkan” memberi tuntunan walau kenyataannya masih lebih banyak menghadirkan contoh tak layak tiru terutama bagi anak-anak. Berbagai adegan scene tayangan religi ini sering diwarnai dengan contoh dan dialog yang justru tidak bersifat religious. Dalam salah satu judul sinetron religi digambarkan seorang anak kecil memperagakan adegan kekerasan  seperti menendang, memukul dan berkata kasar. Digambarkan pula anak anak melakukan adegan berkelahi dengan memakai seragam sekolah, tentu saja ini bukan contoh baik yang pantas untuk disajikan, mengingat tayangan ini banyak ditonton anak-anak. Sisi buruk yang tentunya tidak kita harapakan adalah dampak secara psikologis apabila tayangan jenis ini ditampilkan secara terus menerus tentunya akan mempengaruhi karakteristik perkembangan moral anak anak yang menyaksikan. Pada dasarnya tak bisa kita pungkiri bahwa media televisi saat ini mempunyai efek dan kekuatan yang besar dalam kehidupan anak anak.  Mengisi waktu primetime sinetron religi bersaing gemilang dengan sinetron bertema asmara, mistik dan komedi. Tak pelak bukan memberi satu kemasan mendidik kecenderungan yang kerap teramati justru prilaku yang tak sesuai dengan sebutan sang tokoh. Menjengkelkan, barangkali kata itu yang dirasakan oleh penonton. Namun, lebih dari sekedar rasa jengkel , jauh dari itu  aspek kehidupan nilai nilai agama yang pemeluknya mayoritas sangat kontradiktif tereksploitasi tak terbendung. Logika berfikir sehat ,masihkah content sinetron ini layak untuk ditayangkan dan dijadikan hiburan?, kreatifitas adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah karya sinetron. Namun Logika Common sense seharusnya tetap menjadi dasar merahimkan ide , melahirkan sebuah karya. Kekuatan sinetron religi seharusnya masih bisa ditampilkan tanpa melebih lebihkan adegan kekerasan sebagai aksesoris yang seharusnya sangat tidak diperlukan.

Gambaran tentang isi tayangan berbagai program sinetron di televisi banyak disajikan dalam buku ini.”Layakkah Jadi Tontonan? Kekerasan, agama, etnis dan minoritas dalam sinetron “Si Biang Kerok Cilik” di salah satu stasiun televisi di kupas oleh Rhafidilla Vebrynda. Beberapa adegan dalam sinetron ini nampak melanggar UU No 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran Pada bab IV mengenai pelaksanaan siaran pasal 36 yaitu (1) isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan , hiburan dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak , moral, kemajuan , kekuatan bangsa , menjaga persatuan dan kesatuan serta mengamalkan nilai nilai agama dan budaya Indonesia. Dimana dalam sinetron tersebut kerap menyajikan adegan penganiayaan ditingkah ejekan dan perkataan yang disampaikan oleh pemain berusia kanak kanak. Belum lagi tingkah anak anak usia Sekolah Dasar yang bertingkah laku seperti anak usia dewasa dengan gaya bicara, berpenampilan tidak layak di sekolah  dan prilaku kasar yang tidak sesuai dengan usianya. Pemberian labelitas salah satu karakter anak keturunan Papua bernama Sinyo yang digambarkan sebagai anak keturunan Papua yang digambarkan berkarakter keras dan berbeda dengan tokoh lain pada umumnya. Rhafidilla memberikan kesimpulan, terjadi satu pola diskriminatif terhadap individu dari kesukuannya. Walaupun penonton sangat menyadari bahwa sebuah sinetron diatur berdasarkan scenario namun dampak negatif yang kemudiaan terjadi akibat tayangan yang kurang bermanfaat ini juga sangat besar. Bayangkan saja, bagaimana apabila tayangan ini secara terus menerus ditonton oleh anak anak. Bertindak diskriminatif akan terus terpola dalam kehidupan mereka ketika hidup dalam lingkungan sosial masyarakat yang differensial. Menjadi selektif dalam memilih dan menentukan jenis tayangan yang akan ditonton oleh anak anak kita tetap harus menjadi keharusan. Hal ini juga dapat menjadi salah satu upaya membantu meningkatkan tayangan program televisi yang ada saat ini. Logikanya sebuah tayangan akan bertahan karena banyaknya penonton, berbanding terbalik apabila tayangan tidak lagi diminati tentunya tetap di tangan kita lah awal  perubahal dapat dilakukan.

Jenis tayangan televisi lainnya yang kini marak adalah reality show. Tak berbeda dengan contoh tayangan reality show bergenre mistis horror  yang menunjukkan kekuatan supranatural manusia melawan mahluk halus, wujud abstrak dan kekuatan magis suatu benda yang terbungkus kisah dan mitos. Menyisir batas antara kemampuan menembus hal diluar nalar nampaknya berhasil dibuktikan melalui tingginya minat penonton untuk menyaksikan program ini. Tolak ukur banyaknya program sejenis dapat menjadi gambarannya. Tayangan fenomenal bergenre reality horror yang banyak diminati adalah program tayangan. Dalam buku ini tidak banyak dipaparkan ulasan seputar tayangan reality show tematik horor sebagai satu bentuk tayangan tak layak tayang. Walaupun beberapa waktu lalu KPAI sempat menyinggung tentang dampak buruk tayangan horor bagi perkembangan jiwa dan mental anak. Kekuatiran KPAI jelas beralasan, meski hampir semua stasiun televisi penyaji program ini menayangkannya diatas pukul Sembilan malam, dimana harapan anak anak dibawah usia 15 tahun sudah tak mampu lagi bertahan di depan layar televisi, namun tak terhindarkan semua anak dalam range usia tersebut tak terkontaminasi dengan balutan rasa takut dan ngeri melihat sosok invisible, namun terasakan kehadirannya lewat cerita keluarga dan teman sepermainan mereka sebagai dampak dari penayangannya.

Sebuah ulasan menarik dalam tentang program reality show yang berimbas pada lifestyle sosial masyarakat tertuang dalam Bagian 3 di buku ini yaitu, Reality Show: Mempertanyakan Realitas yang Dikemas Televisi , dituangkan oleh M.Rafiquddin Ahsan pada topik  “Kontradiksi Hiburan Televisi dengan Asas, Tujuan, Fungsi dan Arah Dalam UU No.32 Tahun 2002” , pada topik ini dijelaskan bagaimana televisi menjadi second mother , dimana anak belajar dari televisi. Melalui berbagai tayangannya televisi menjadi  media pembelajaran bagi siapa saja. Seorang anak dalam kapasitas usianya sebagai generasi yang tumbuh dan berkembang, terikat dalam pengaruh lingkungan eksternal  termasuk media televisi yang dikenalnya sejak kecil sebagai suatu media yang menyajikan kesenangan melalui film film kartun kegemarannya. Seiring dengan tumbuh kembang dan pergeseran jenis selera akan program favorit secara tidak langsung turut berperan memvisualisasikan gambaran karakter mereka sebagai remaja. Tayangan reality show  yang menggambarkan gaya hidup hedonis celebrity  , dengan trend mode dan gaya penampilan high class menjadikan para penonton remaja  seolah tak lagi berpijak pada kehidupan sejatinya. Gambaran kehidupan sempurna sang artis idola, saat lensa mengikuti langkah sang seleb keluar masuk pusat pertokoan elite, memilih dan membeli aksesoris berharga selangit bak wangsit menjadi inspirasi remaja untuk tak lagi segan dan ragu meniru , prinsip ekonomi seolah menjadi kadaluarsa dalam kasus ini. Lihat saja, beberapa rumah kecantikan pun seolah berlomba membangun reputasi dengan menjadikan para celebrity sebagai rule model , dan tak pelak menuntun remaja berfokus pada keharusan untuk menjadi sempurna. Sedemikian besar pengaruh tayangan reality show  lifestyle mempengaruhi gaya hidup para remaja. Berkaca pada hal tersebut, Rafiquddin menyimpulkan bahwa  terdapat beberapa hal yang belum sejalan dengan asas, tujuan dan fungsi dan arah media penyiaran yang tercantum dalam BAB II UU no 32 tahun 2002 yakni, memperkukuh integrasi sosial, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa , memajukan kesejahteraan umum dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera. Bagi stasiun tv adalah penting untuk mampu membaca dengan jelas selera masyarakat. Tak bisa dihindari, saat ini tayangan sepola itu marak di gemari. Jika hal ini tak dilakukan niscaya stasiun televisi tersebut akan ditinggalkan penontonnya. Hal ini tentunya berefek tidak baik bagi kelangsungan umur sebuah stasiun televisi.  Namun akan menjadi sebuah nilai tambah apabila esensi dari sebuah tayangan tidak melupakan norma , karakter , etika dan moral yang menunjukkan pribadi bangsa.

Kumpulan artikel dalam Kolonialisasi Media Televisi menyoroti berbagai tayangan program stasiun televisi lokal untuk dikritisi dengan menggunakan bahasa komunikasi yang ringan, gaya bahasa menarik tanpa menggunakan istilah istilah khusus sehingga mudah untuk dipahami pembacanya. Masing masing penulis mengkritisi dengan menyebutkan program tayangan secara jelas. Namun , dalam buku ini para penulis hanya menyajikan kritik terhadap tayangan tanpa ke melihat stasiun televisi sebagai lembaga penyiaran profitable yang berorientasi bisnis. Dilema bagi stasiun televisi untuk setia menyajikan tayangan ideal dan bermutu dalam arti sebenarnya.  Kembali pada selera masyarakat , dimana kelas masyarakat menengah ke bawah memahami televisi sebagai objek hiburan semata. Tanpa mengesampingkan masyarakat kelas atas yang tentunya masuk dalam kategori pemirsa pemilih yang lebih selektif dalam memutuskan tontonan. Notabene kelas menengah ,yang umumnya adalah kelompok intelektual, sosialita bisnis, professional tayangan bersifat informatif kerap menjadi pilihan. Namun, mereka bukanlah penonton setia yang mampu menghabiskan waktu berjam jam di layar televisi. Hanya pada waktu dan jam tertentu saja mereka  meluangkan waktu dan itupun tidak menjadi sebuah rutinitas. Sehingga sulit bagi stasiun televisi untuk menjadikan mereka penikmat potensial. Padahal, stasiun televisi bertahan hidup melalui masuknya iklan. Pengiklan tentunya memilih pasar potensial produknya dengan memasukkan iklannya pada tayangan dengan penonton terbanyak yang diharapkan menjadi target pengguna produk mereka. Perlu dipahami bahwa berdasarkan riset yang dilakukan, penonton televisi terbanyak adalah kalangan remaja dan ibu rumah tangga.  Sulit bagi stasiun televisi untuk menyajikan tayangan progam yang tidak diminati kategori pemirsa terbanyak. Apabila kembali pada idealisme sebuah tayangan hal ini akan menjadi kontradiktif dengan selera masyarakat. Program tak laku ditawarkan pengiklan, tayangan tak lagi menjadi komersil, dampaknya adalah kerugian bagi stasiun televisi.

Program menarik yang lain adalah feature traveling.  Pesona keindahan alam Indonesia yang belum banyak terekspos menjadi sisi eksotisnya program ini. Tak hanya itu, selingan content kuliner juga tak kalah menggoda keinginan  Mengenal dan mengeksplorasi nusantara dengan ide yang inspiratif menjadi satu daya tarik kuat untuk program ini digemari pemirsa. Menjadi satu pilihan favorit yang lain adalah program ensiklopedi dunia, mengenal keunikan berbagai hal dalam kemasan tayangan sarat informasi dan pengetahuan populer, sukses merebut perhatian pemirsa. Program talkshow news topik yang dikemas parodi menjadi informasi tak berat untuk ditonton. Program pencarian bakat yang marak belakangan inipun pantas untuk dijadikan tontonan , walau seringkali program acara ini sarat dengan intervensi dan promosi sponsor melalui polling sms.  Namun ajang kompetensi pencarian bakat ini masih memberikan alternative tontonan menarik sarat nilai semangat kompetisi yang dapat menginspirasi orang lain untuk mengembangkan dan mempublikasikan bakat unik mereka.

Buku ini juga menyoroti bagaimana sebuah stasiun televisi juga menjadi ajang kampanye politik bagi pemiliknya. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia beberapa stasiun televisi dimiliki oleh para tokoh yang notabene aktif sebagai seorang politikus dalam beberapa partai. Strategi cerdas untuk menjadikan stasiun televisi sebagai sarana publikasi berbagai aktivitas dan sepak terjang kegiatan kepartaian dari para pemilik. Bagaimana salah satu kegiatan partai nasional  yang dimiliki oleh salah satu tokoh ditayangkan dalam headline news, dengan durasi tayang waktu yang cukup lama, bahkan kerap menjadi Info utama.  Apabila dikaji dari dasar kepentingan dan sifatnya, berita tersebut bukanlah informasi penting untuk segera diketahui oleh masyarakat. Contoh lain , ketika terjadi bencana luapan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur  akibat eksplorasi kegiatan perusahaan milik salah satu nama pemilik grup media televisi. Tommy menilai terjadi ketidaknetralan dari stasiun stasiun televisi yang juga pemilik sama dari perusahaan yang berkaitan dengan kasus musibah tersebut. Saat ramainya kasus ini beberapa stasiun televisi menyiarkan berita dengan topik yang sama dengan frekuensi yang kontinity, tetapi tidak demikian halnya  dengan stasiun televisi TVOne dan ANTV. Tidak tergambarkan dalam kamera kedua televisi tersebut bagaimana penderitaan dan kesulitan masyarakat akibat luapan lumpur  yang tidak bisa dikategorikan sebagai minor fource. Berbeda halnya dengan televisi competitor, Metro TV justru dengan gamblang menayangkan bagaimana sulitnya masyarakat korban luapan lumpur, yang kehilangan tempat tinggal dan tanah yang mereka miliki dan kesulitan yang dialami akibat peristiwa tersebut.. Tommy dengan jelas memberikan informasi dalam artikelnya tentang peristiwa dan tanggal saat berita tersebut ditayangkan, bagaimana salah satu tokoh tampak menyudutkan tokoh lainnya yang adalah pemilik stasiun televisi. Dapat dilihat betapa konglomerasi media tergambar jelas mempengaruhi aspek aspek nilai berita dan disajikan. Berita cenderung menjadi tidak objektif dan jelas menggambarkan kepentingan sang pemilik modal. Kembali masyarakat menjadi pihak yang dirugikan. Pemberitaan yang seharusnya menjadi informasi netral dan berimbang menjadi tak lagi objektif untuk di sampaikan kepada masyarakat.  Efek yang ditimbulkannya tentulah hanya pemasgulan dari masyarakat yang saat ini jelas semakin cerdas memahami situasi dan keadaan untuk  memahami sebuah “agenda setting”.

Dalam opini yang ditulis Tommy Sulaiman yang berjudul ‘Kepemimpinan Media VS Netralitas Media” memetakan beberapa stasiun televisi nasional saat ini melakukan merger dalam satu korporasi kelompok usaha yang dimiliki oleh tokoh yang sama. Sebut saja Hari Tanoesudibjo dengan MNC grup , kelompok usaha media publikasi pemegang kendali tiga stasiun RCTI, GlobalTV, dan MNC TV dan beberapa media massa sepertin Koran Sindo. Aburizal Bakri yang memegang penuh kendali atas TVOne dan ANTV serta media online VIVA News.com. Surya Paloh dengan Metro TV nya dan Chairul Tanjung yang memayungi TransMedia dan Detik.Com. Menarik mengamati apa yang di tulis Tommy Sulaiman, bahwa kecenderungan untuk menginformasikan content berita dari sebuah stasiun televisi kepada masyarakat kerap  dipengaruhi oleh kepentingan dan reputasi nama dari si pemilik Media. Berita yang disajikan tidak lagi netral, justru cenderung sarat dengan kepentingan dari si Pemilik Media.

Masih dengan topik yang sama pada artikel berjudul  “Fenomena Blooking Time di Indonesia : Ketika Sang Pemilik Numpang Eksis” yang ditulis oleh Wafda Sajida Dzahabiyya. Gambaran mengenai waktu siar yang digunakan untuk kepentingan pribadi pemilik stasiun televisi  yang dikenal sebagai istilah ‘blooking time’ menjadi isu utama. Dalam kaitannya dengan aspek hukum yang berkaitan dengan Undang Undang Penyiaran No.32 tahun 2002 tentang Penyiaran dan Peraturan KPI No 03/P/KPI/12/2009 Tentang Standar Program Siaran (SPS) yang menjelaskan tentang definisi Blooking time. Wafda membentangkan sebuah realita bahwa beberapa stasiun televisi kerap melakukan blooking time memanfaatkan hak siar untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, dalam bentuk live event maupun recorded.  Contoh kasus yang dipaparkan Wafda berkenaan dengan ‘blooking time” saat sebuah program acara musik yang ditayangkan ulang dan memiliki rating yang bagus tiba-tiba muncul breaking News yang menampilkan deklarasi dari organisasi masyarakat yang didirikan oleh Hari Tanoesudibjo. Saat penonton diasyikkan oleh acara hiburan tiba tiba dimasuki oleh breaking news tayangan semacam  ini tentu saja secara langsung menimbulkan satu opini bentuk pemanfaatan tayangan  unggulan dengan banyak penonton dijadikan kesempatan bagi pemilik stasiun televisi untuk menyisipkan publikasi aktivitas agendanya.

Kritisi penting untuk dijadikan catatan dalam buku ini seharusnya dibuat berimbang dengan menampilkan beberapa program tayangan lajak puji milik produk stasiun televisi lokal sebagai perbandingan. Hal ini bukan sesuatu yang akan mengurangi kualitas isi buku, namun dapat memberikan penilaian berimbang terhadap program tayangan yang memiliki content berkualitas. Tanpa mengubah judul, toh kolonialisasi dan imperialisme adalah kata yang tidak hanya mengandung makna negatif. Sebut saja program tayangan talkshow yang bersifat informatif, menghibur dan memperluas wawasan kecerdasan dan kepekaan masyarakat yang kini ditayangkan di beberapa stasiun tv. Bagaimanapun kreativitas masih menjadi keutamaan dalam mendesain program tayangan. Perlu inovasi dan ide cemerlang untuk mengemas tayangan yang biasa menjadi istimewa. Kolonialisme tidak berarti bentuk penguasaan yang negatif apabila kita mampu menjadikan kolonialisme sebagai bentuk penguasaan sikap,penanaman nilai eksistensi budaya bangsa , keberadaban yang dapat disampaikan melalui bentuk tayangan program yang pada akhirnya benar sampai pada kata “mendidik”. Perlu ide segar untuk menjadikan tayangan yang biasa sebagai sesuatu yang menarik. Tantangan bagi para broadcaster, pelaku desain kreatif produksi tayangan televisi untuk inovatif membungkus program tayangan menjadi terekspos karena kualitas. Tidak menjadi pengikut pada kesuksesan program lalu menyajikan tayangan yang sejenis dengan hanya sedikit modifikasi. Tidak melulu mengikuti produk kreatif lain yang telah sukses dibuat.

Televisi sebagai media penyaji hiburan, berada pada titik kritis dipaksa menantang mengikuti  keberadaan teknologi baru. Era televisi digital tentunya akan semakin mempertajam iklim persaingan dan ini menjadi tantangan bagi stasiun televisi untuk dapat menyuguhkan tayangan yang lebih variatif dan menghibur. Kolonialisasi media televisi memberikan gambaran bagaimana kualitas tayangan yang sekarang ini dan bagaimana dampak baik dan buruk bagi pemirsanya. Namun televisi tentulah tetap menjadi media hiburan pilihan masyarakat. Menyajikan tayangan layak tonton dan memiliki unsur edukatif dan hiburan, tentulah harus menjadi prioritas bagi stasiun televisi. Masyarakat pun dapat menjadi lebih bijak untuk memilih tontonan dan menjadi kritisi bagi peningkatan mutu tayangan program. Secara umum kolonialisasi media Televisi dapat menjadi salah satu pilihan bacaan  untuk melihat realita tayangan program televisi saat ini. Buku ini juga dapat menjadi inspirasi bagi para broadcaster untuk lebih kreatif menajamkan ide melahirkan produk tayangan yang lebih menarik, inovatif , berkualitas dan beretika di masa depan.

 

Penulis                 : Kelas Hukum Media Massa 2012/2013, Program Studi Ilmu Komunikasi   Univ.Muhammadiyah Jogkjakarta dan Buku Litera

Penerbit              : Buku litera

Cetakan               : Pertama, Juli 2013

Tebal                     : 200 hlm

ISBN                      : 978-602-7636-42-2

Resenser             : Ratih Damayanti

Kolonialisasi Media Televisi, sebuah buku yang ditulis oleh kelompok dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu

LEAVE A COMMENT

All fields are mandatory.