Menjadi Guru Menjadi Sahabat

Home / Education / Menjadi Guru Menjadi Sahabat

Menjadi Guru Menjadi Sahabat

Maraknya kasus ‘bullying’ yang terjadi di beberapa sekolah belakangan ini tentu menimbulkan kekuatiran bagi kita. Tidak hanya orang tua , dampak psikologis dalam bentuk ketakutan dan kekuatiran dominan terasa dalam diri anak anak yang berada dalam ‘bullying area’. Sekolah, tempat bermain dan belajar yang seharusnya menyenangkan justru menjadi tempat dimana aksi ‘bullying’ kerap dilakukan. Masih lekat dalam ingatan kita kasus ‘bullying’ yang terjadi di Padang, Sumatera Barat (detik.com). Sekelompok anak yang duduk di sekolah dasar melakukan ‘bullying’ terhadap teman perempuan dan peristiwa itu disaksikan oleh teman-temannya. Kasus ini beberapa kali pernah terjadi di Indonesia.

Sekolah yang sebenarnya adalah tempat dimana anak anak melakukan aktivitas belajar dan berinteraksi sosial, tak ubahnya menjadi tempat yang menimbulkan kekuatiran manakala pelaku ‘bullying’ berada didalamnya. Para pelaku rata rata adalah senior atau kakak kelas yang berada pada tingkat tertinggi di lingkungan sekolah. Namun , tak jarang juga pelaku adalah anak-anak seusia dengan si korban ‘bullying’.

Pertanyaan kerap muncul , apa yang melatari aksi pelaku ‘bullying’ bertindak kasar dan melakukan aksi kekerasan terhadap orang lain. Salah satu alasan yang mengemuka adalah munculnya game game yang menampilkan aksi kekerasan. Namun lebih daripada itu adalah, munculnya rasa kebanggaan psikologis ketika berhasil mempengaruhi orang lain untuk menjadi takut dan tunduk pada kemauan si pelaku ‘bullying’. Senioritas, merasa menjadi yang paling ‘tertinggi’ dalam satu kelompok sehingga bebas untuk menguasai bawahannya. Memilukan, ketika anak anak mengadu pada orang tua mereka atas hilangnya barang atau uang mereka di sekolah. Terlebih ketika kita mengetahui si pelaku adalah kakak kelas yang seharusnya bisa menjadi panutan baik bagi si adik kelas.

Disinilah peranan kita sebagai orang tua dan guru untuk meminimalisir maraknya kasus ‘bullying’ agar tidak semakin meluas dan kemudian menimpa anak anak kita untuk menjadi korban berikutnya. Menanamkan sikap percaya diri pada anak untuk menghadapi ancaman di sekeliling mereka perlu dilakukan. Keberanian dalam diri anak anak perlu dikembangkan. Dalam konsep kurikulum 2013 yang berbentuk tematik integrasi, guru dapat memberikan materi bagaimana membentuk kepercayaan diri pada anak didik.  Melalui content materi pembelajaran tematik ini, guru dituntut untuk kreatif dalam memotivasi anak untuk dapat ‘survive’ dalam berbagai ancaman di sekeliling mereka. Guru dapat mengatakan bahwa menjadi orang berani dalam segala hal adalah keharusan, berani untuk menyampaikan rasa takut dan berani untuk menentang hal buruk yang tidak pantas. Meminta paksa untuk sesuatu yang bukan menjadi haknya adalah tindakan yang salah dan merugikan.

Dalam menyampaikan kurikulum tematik integrasi ini, dibutuhkan kedekatan guru terhadap anak didiknya. Mengingat dalam content materi kurikulum 2013 lebih  menitikberatkan agar para siswa mampu untuk melakukan observasi terhadap lingkungan sosial maupun lingkungan hidup, budaya dan fenomena yang terjadi disekitar mereka. Para guru dapat melakukan tanya jawab atas berbagai hal yang ada dan terjadi di sekeliling para siswa, misalnya tentang hubungan antar relasi teman dan keluarga. Dari hal hal tersebut guru dapat mengetahui bagaimana  latar belakang dan karakteristik si anak didik dan hal hal yang menimbulkan kekuatiran dalam kehidupan mereka dan bagaimana kepribadian mereka dapat terbentuk dan berkembang. Pada dasarnya pembentukan karakter anak akan mudah dilakukan ketika guru mengetahui benar apa yang menjadi kebutuhan si anak dan faktor faktor pembentuk karakter di sekitar lingkungan para peserta didik. Dalam membentuk karakter ini, kurikulum 2013 sangat relevan untuk dikembangkan dalam konsep penanaman karakter dan pemahaman akan sosial cultural dalam lingkungan anak didik.

‘Bullying’ adalah salah satu contoh fenomena ancaman sosial dalam kehidupan anak. Mereka harus memahami bentuk bentuk kekerasan di sekitar mereka. Bentuk kekerasan yang mereka harus pahami tidak hanya dalam bentuk fisik. Menjadi sasaran kemarahan dan perlakuan kasar dari orang orang disekeliling mereka juga merupakan bentuk bullying non fisik. Dengan demikian si anak dapat mempertahankan diri mereka dari berbagai ancaman disekitar mereka. Guru harus mampu membuka cakrawala anak didiknya akan pemahanan kesamaan hak asasi dalam kehidupan. Tidak menindas dan pantang ditindas.  Menumbuhkan rasa cinta kasih dalam aspek kebersamaan dan hidup rukun dalam masyarakat. Memberikan pemahaman akan kondisi realitas sosial ekonomi masyarakat yang tidak sama melalui konsep kepedulian antar sesama dalam bentuk tauladan konkret yang bisa dilihat dan dirasakan.

Anak adalah masa depan zaman, berkontribusi dalam penanaman nilai positif dalam kehidupan mereka berarti guru berkontribusi penuh dalam menghasilkan bibit unggul yang kompetitif di masa yang akan datang. Pendidikan dasar merupakan awal dari pembentukan watak dan karakter bangsa. Fenomena bullying yang terjadi saat ini adalah satu bentuk buruknya pengawasan kita terhadap perkembangan karakter anak. Terlalu naïf apabila kita menanyakan bahwa pelaku ‘bullying’ adalah anak anak yang berasal dari masyarakat menengah kebawah. Belakangan kasus bullying kerap dilakukan pula oleh anak anak yang notabene berasal dari an latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Tidak jarang para pelaku adalah anak anak yang berasal dari keluarga mampu. Mereka tumbuh dalam keluarga yang minim komunikasi dan tidak memiliki kedekatan satu sama lain layaknya keluarga. Anak anak yang tumbuh dalam perhatian teralih dalam setiap

Menarik untuk disimak bahwa perilaku menekan orang lain seringkali dilakukan oleh orang orang yang ingin diakui keeksistensiannya. Bukan sekedar ingin menguasai sesuatu atas hak milik orang lain, namun lebih kepada kepuasan akan menguasai orang yang tidak berdaya. Perilaku dominasi seringkali menjadi salahsatu alasan mengapa orang dapat bertindak tidak adil terhadap orang lain. Munculnya fenomena ‘bullying’ dalam berbagai bentuk salahsatu penyebabnya diduga adalah faktor ini. Kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dan menunjukkan eksistensi pelaku di tengah tengah lingkungan sosial mereka dilakukan dengan cara menekan sesamanya. Kepuasan akan kemampuan untuk menguasai orang lain dilakukan dalam bentuk ‘bullying’.

Peranan guru dan orangtua dalam membentuk karakteristik anak memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Terlebih ketika orang tua dan guru berperan sebagai pembimbing di rumah dan sekolah. Penanaman nilai dan akal budi dalam tumbuh kembang anak penting untuk ditanamkan oleh orang tua dan guru untuk menghindari  perilaku buruk berkembang pada saat mereka dewasa. Guru dan orang tua harus mampu menjadi sahabat  dan tempat berkeluh kesah. Guru dapat berbagi peran dengan orang tua menjadi teman bercerita, memberikan  Teori behavioristik yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.  Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran yang menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Jelaslah, bahwa guru tidak  hanya sekedar berperan untuk menyampaikan materi pembelajaran namun juga harus mampu memberikan penanaman nilai nilai kebaikan. Dalam sistem belajar pembelajaran , terdapat istilah ‘hidden curriculum’ atau kurikulum tersembunyi sebagai cara untuk memberikan pemahaman tentang hal hal baik, seperti norma, perilaku dan adat berkehidupan masyarakat disela sela penyampaian materi pembelajaran

Cara mengajar conservative, seperti guru berdiri didepan kelas dan menjelaskan tentang materi belajar sudah tidak lagi sesuai di masa sekarang. Tehnik mengajar saat ini  dapat dilakukan dengan cara yang lebih atraktif, misalnya melalui teknologi informasi internet dengan metode interaktif yang ada dan guru dapat berperan sebagai problem solver dengan mengaktifkan anak anak untuk senang dengan suasana belajar. Kurikulum 2013 dapat menjadi salah satu contoh bentuk pelajaran yang interaktif dan mampu menciptakan kedekatan antara guru dan siswa. Sampai pada akhirnya pencapaian pembelajaran dapat berhasil dengan maksimal. Guru kini bukan lagi sekedar orang tua lebih dari itu guru adalah sahabat yang setia berbagi ilmu dan ajaran-ajaran kehidupan. Dampaknya di masa depan diharapkan perilaku ‘bullying’ tidak lagi sering kita saksikan di sekeliling kehidupan kita.

(RD)

LEAVE A COMMENT

All fields are mandatory.