Budaya Kerja Tim Kreatif Pada Industri Televisi (Kajian Pada Tim Kreatif Stasiun Televisi Indosiar Visual Mandiri)

Home / Human And Resource / Budaya Kerja Tim Kreatif Pada Industri Televisi (Kajian Pada Tim Kreatif Stasiun Televisi Indosiar Visual Mandiri)

Budaya Kerja Tim Kreatif Pada Industri Televisi (Kajian Pada Tim Kreatif Stasiun Televisi Indosiar Visual Mandiri)

 

Abstraction

 Television is a creative industry in which there is a creative working group that has a big role in creating creative products. This study discusses the work culture of the creative team in creating creative products that is the content of television programs. Television stations must be able to compete in order to maintain their existence in order to compete and gain a high share rating. Television creative team is a work group that has a uniqueness that is different from the work group of other organizations. This research focuses on work culture by using creative group work team population in private national television station Indosiar Visual Mandiri (IVM). This work culture is studied from the aspects of the creative process, the concept of leadership in the creative work group, the work ethic that embodies embedded cultural values, the responsibility of the creative team and the role of the Leader in shaping the work culture within the team. This research uses qualitative research method. This research was conducted for one year with field observation, research studies on existing research and conducted interviews with leaders and members of the creative team by designing questionnaire items based on focus and sub focus of research. This research has resulted that creative process in television creative working group is influenced by cooperation and coordination, appropriate leadership style according to situation, condition and role, work ethic that is grown from good communication and relationships, collective responsibility and work culture that take place naturally .

 

Keywords: Work culture, Creative team, Television industry

 

Budaya Kerja dapat menjadi sebuah petunjuk bagi kita memahami karakter sebuah organisasi. Dalam kelompok industri kreatif seperti Industri televisi, budaya kerja merupakan suatu gambaran yang mewakili sebuah kelompok kerja kreatif televisi. Industri televisi merupakan industri kreatif yang menyajikan tayangan informasi dan hiburan melalui content program yang dihasilkan dari proses produksi yang bertahap dan dipersiapkan dengan baik. Menghasilkan  content program tidak lepas dari kreativitas dan kemampuan yang dimiliki oleh para tim kreatif yang ada didalamnya. Tim kreatif merupakan kelompok tim produksi yang berperan sebagai personil dalam mempersiapkan sebuah acara mulai dari pra produksi, produksi dan pasca produksi. Kompetisi saat ini tidak bisa dihindari dalam merebutkan rating penonton dan share dari para pengiklan produk. Maraknya stasiun televisi swasta nasional maupun lokal tv menciptakan kompetisi yang tinggi. Dalam memperebutkan audiens saat ini dibutuhkan strategi dalam menciptakan program yang disukai dan memenuhi keinginan masyarakat. Bagi para tim kreatif hal ini merupakan tantangan sendiri untuk mampu berkompetisi menciptakan program unggulan yang mampu memperoleh peringkat yang tinggi sebagai indikator keberhasilan sebuah program.

Peran tim kreatif dalam meningkatkan  dan menghasilkan content program kreatif yang menarik dan memperoleh rating tinggi dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah budaya kerja yang ada dalam internal organisasi. Budaya kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja. Budaya kerja menentukan bagaimana cara kerja dan pedoman kerja yang dimiliki dalam lingkungan kerja. Budaya kerja ini merupakan turunan dari budaya organisasi. Menurut Sutrisno ( dalam ndraha,2014), budaya organisasi Didefinisikan sebagai perangkat sistem nilai nilai (values) yang diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan pemecahan masalah masalah yang organisasinya.  Dengan kata lain, budaya kerja merupakan refleksi dari budaya kerja yang ada dan tertanam dalam diri individu yang bekerja dalam sebuah organisasi. Eksistensi perkembangan organisasi sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari budaya kerja yang ada di dalamnya. Budaya kerja dapat memberikan efek positif dalam bekerja namun sebaliknya budaya kerja juga akan memberikan pengaruh yang negative bagi individu dimana hal ini akan memberikan pengaruh kepada etos kerja dan cara kerja. Dalam penelitian ini,fokus yang akan dibahas adalah mengenai budaya kerja dengan objek penelitian  pada tim kreatif televisi. Selanjutnya budaya kerja dalam konteks penelitian ini fokus pada enam aspek yaitu : (1) proses kreatif yang terbangun dalam tim kerja produksi, (2) konsep kepemimpinan produksi televisi dalam membangun budaya kerja kreatif (3) Etos kerja yang terbentuk dalam tim kerja kreatif televisi (4) Nilai nilai budaya yang tertanam dalam tim kerja kreatif televisi (5) tanggung jawab yang ada dalam tim kerja kreatif televisi, dan  (6) peranan pimpinan dalam membentuk budaya kerja dalam tim kreatif televisi. Ke enam aspek tersebut akan ditinjau dengan pola framing budaya kerja dan refleksi yang terbentuk di dalamnya.

Artikel ini dibuat untuk memberikan masukan dan memperdalam manajemen sumber daya manusia dan khususnya memberikan referensi tentang budaya kerja tim kreatif dalam industri televisi yang juga merupakan industri kreatif.

Budaya merupakan bagian dari nilai nilai, yang juga dapat dimaknai sebagai budi atau akal. Akal merupakan pikiran, adat atau kebiasaan yang tergambar melalui sikap dan perilaku. (Tylor 2007)  menyatakan budaya merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Budaya tidak lepas dari nilai nilai yang ditemukan dalam keseharian sekelompok orang yang hidup dan beraktivitas bersama dalam suatu lingkungan. Dalam lingkungan pekerjaan dalam kapasitas dan relasi sebagai teman kerja, pimpinan dan staff melalui proses interaksi yang dilakukan secara terus menerus. Interaksi sosial dalam suatu kelompok kerja akan mempengaruhi cara kerja dan iklim kerja yang ada didalam suatu organisasi.

Budaya akan mempengaruhi cara berfikir individu untuk dalam bekerja dan beraktivitas dan menentukan sikap sebagai pengejawantahan dari hasil interaksi yang dirasakan dari kelompoknya. Budaya pada prinsipnya tercipta dari kreasi makna dan perasaan yang didapat dari interaksi yang terus menerus. Budaya semata mata merupakan hasil kreasi, pola pikir manusia dan segala pikiran manusiawi lainnya melainkan juga dari makna yang tersirat dari balik hasil kreasi, pola pikir dan segala peristiwa kemanusiaan tersebut (Geertz 2014) menyatakan bahwa budaya bersifat simbolik yang memiliki dua komponen yaitu komponen eksplisit dan implisit. Komponen implisit  merupakan komponen yang tersembunyi yang hanya bisa dipahami oleh sekelompok orang tertentu dan membutuhkan makna untuk diinterpretasikan. Perlu keterlibatan dan interaksi yang terus menerus agar mampu memaknai budaya kerja yang ada dan terjadi dalam industri televisi. Bagi individu yang baru masuk ke dalam lingkungan kerja yang baru, tentunya ini membutuhkan ketajaman rasa untuk memahami komponen implisit. Memahami komponen implisit ini  tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual tapi kemampuan beradaptasi terhadap situasi dan kondisi kelompok, dan cara kerja kelompok perlu dipahami melalui ketrampilan berkomunikasi saat bekerja bersama. Komponen implisit ini seringkali menyulitkan individu untuk beradaptasi karena adanya ketidakcocokan kerja dan karakter antara satu sama lain yang menjadi salah satu aspek penyebab aktivitas kerja tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Komponen ini muncul dalam aspek aspek simbolis namun mudah untuk divisualisasikan. Sedangkan konsep budaya kerja secara eksplisit menjadi hal yang mudah untuk dipahami karena merupakan hasil konkret yang dapat dilaksanakan , dipraktekkan dan dilakukan dengan mudah, seperti pemahaman operasional prosedur kerja, interpretasi data dalam bentuk produk script, desain, produk kebijakan dan pemahaman kerja bersama melalui standar operating prosedur yang tersaji nyata dan dipahami bersama. Kedua komponen ini menjadi salah satu cara untuk memahami budaya kerja dalam suatu kelompok. Didalam industri televisi, budaya kerja tersebut dapat kita amati melalui pola interaksi antar para pekerja kreatif yang terjadi dalam keseharian dalam aktivitas kerja.

Metode penelitian dilakukan melalui metode kualitatif dengan melalui proses pengamatan secara berkelanjutan selama periode waktu penelitian. Metode dilakukan melalui proses wawancara dengan para pelaku kreatif dalam industri televisi yang berada dalam tim produksi. Profesi dalam tugas bidang kreatif mereka adalah produser, sutradara, camera person, Script writer, animator graphic design, wardrobe team , penata artistic dan lightingperson. Pengamatan dalam memperhatikan cara kerja dan langkah langkah persiapan produksi yang dimulai dari pra produksi, produksi dan pasca produksi. Interview dilakukan dengan menyusun pertanyaan dengan membuat matriks berdasarkan subfokus penelitian kemudian disebarkan sesuai dengan masing masing tugas dan profesi dari para tim kreatif yang bekerja. Dari pertanyaan tersebut selanjutnya diolah untuk mendapatkan suatu gambaran dan rekomendasi tentang budaya kerja yang terjadi dalam industri televisi.

Vokasi penelitian dilakukan di stasiun televisi swasta nasional yaitu Indosiar Visual Mandiri. Indosiar merupakan salah satu stasiun televisi yang memiliki program in house yang cukup variatif. Program inhouse merupakan program yang dibuat sendiri secara internal kemudian ditayangkan untuk masyarakat.  Stasiun televisi Indosiar memiliki produk acara varian yang beragam yang kesemuanya dibuat secara internal program. Melalui observasi ini maka akan dapat dipahami dan diamati secara langsung bagaimana konsep kerja yang berlangsung dan budaya kerja yang ada didalamnya.

Penelitian ini menghasilkan bahwa masifnya industri dibidang kreatif televisi menuntut para tim kreatif untuk mampu membangun ide kreatif dan merealisasikannya dedngan baik dan mengemasnya dalam content yang menarik. Proses kreatif diawali dari persipan yaitu masa pra produksi, produksi dan pasca produksi. Hal yang paling menarik adalah merealisasikan ide kreatif dalam visualisasi kreatif dalam bentuk dan sajian menarik. Ide berasal dari berbagai sumber yang dapat memberikan inspirasi penciptaan karya. Kepemimpinan dalam kelompok kreatif kerap menerima ide dari para timnya dan memberikan motivasi dan menindaklanjuti ide tersebut dalam konsep konkret dalam karya yang akan dihasilkan. Pemimpin memberikan kepercayaan kepada para timnya untuk bekerja sesuai konsep dengan melihat kondisi dan situasi yang ada. Penerimaan ide kreatif dari tiap anggota tim oleh Pimpinan yang dianggap menarik dan inovatif akan ditindaklanjuti dengan tahap brainstorming antar tim.

Kerja tim kreatif kerap tidak mengenal waktu , karena ritme produksi yang tidak menentu. Tugas diberikan sesuai dengan keahlian masing-masing namun koordinasi yang erat dalam proses produksi menjadikan satu sama lain saling terikat dalam satu komando yang sama. Kontribusi pekerjaan yang mereka lakukan mensyaratkan etos kerja yang baik dan hal tersebut akan menentukan hasil yang optimal. Iklim kerja yang mendukung akan membentuk etos kerja yang positif. Kebutuhan untuk memiliki tim kerja yang solid dan saling mendukung di tim kreatif tidak terbantahkan. Memiliki tim yang menyenangkan dan kooperatif sangat penting untuk mendukung semangat dalam bekerja dan menumbuhkan etos kerja.

Hal terpenting dalam industri yang mengedepankan kreativitas sebagai produk adalah tanggung jawab. Tanpa adannya tanggung jawab ide kreatif yang  di proses dan dieksekusi akan kehilangan arti. Tugas diberikan berdasarkan profesi masing masing,walaupun adakalanya tidak berimbang bagi tim produksi. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada responden, para pekerja kreatif di lapangan seringkali mendapat tanggung jawab yang lebih besar. Maka pemerataan tugas dianggap sebagai suatu cara untuk meminimalkan mismatch antar tim kreatif. Tanggung jawab oleh para tim kreatif dimaknai sebagai mengemban semua kewajiban dan beban kerja sesuai yang tertuang dalam job description masing-masing pegawai.

Berkenaan dengan peranan Pimpinan dalam membentuk budaya kerja dalam tim kreatif televisi , dalam peranannya Pimpinan kelompok kreatif terlibat langsung dalam proses awal pra produksi, produksi dan pasca produksi. Pimpinan dapat merepresentatifkan wewenang kepada para sutradara program di lapangan, namun berbeda halnya dengan pendelegasian yang bersifat strategis dan manajerial.

Indosiar merupakan salah satu stasiun televisi yang produktif membuat program acara, atau dalam istilah broadcasting dikenal dengan content program. Program kreatif yang kian marak pada sepuluh tahun belakangan ini menuntut tim kreatif lebih inovatif dalam menciptakan program-program baru yang berbeda isi meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa bertahan atau tidaknya suatu program banyak dipengaruhi oleh selera penontonnya yang dapat dilihat melalui rating yang didapat. Di Indonesia rating program content stasiun televisi swasta  di review oleh Lembaga riset AC Nielson. Hasil rating dikirimkan ke masing masing stasiun televisi untuk dilakukan review oleh masing masing divisi research and development di masing masing stasiun televisi.  Saat ini program yang banyak diminati selain hiburan adalah human interest.

Program-program tersebut dibuat oleh tim-tim kreatif. Tim kreatif berperan dalam setiap persiapan program, mulai dari pra produksi (persiapan), produksi (proses produksi) dan pasca produksi. Kekuatan sebuah program dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain: jenis acara, para pengisi acara, berikut jam tayangnya. Program acara pada setiap stasiun televisi swasta tidak akan dapat hidup tanpa adanya loyalitas pemirsa dan iklan. Program-program acara tersebut harus memiliki strategi kreatif dalam pemenuhan tujuan dan sasaran yang dimiliki. Ditambah lagi kompetisi program acara antara stasiun televisi swasta di Indonesia yang semakin gencar dalam meraih keuntungan iklan, meningkatkan dan mempertahankan pemirsanya.

Produk kreatif yang dibuat oleh Indosiar Visual Mandiri (IVM) merupakan produk content program yang bersifat entertaining. Seperti program kompetisi musik dangdut yang berdasarkan rating  AC Nielson masuk dalam kategori tayangan unggulan. Program Stand up Comedy, program religi yang merupakan daily program. Seiring dengan tingginya kompetisi antar stasiun televisi, para pekerja kreatif atau tim kreatif di IVM perlu melakukan persiapan yang matang dengan menentukan konsep acara pada awal pra produksi. Disinilah tim kreatif mulai bekerja dengan menyiapkan audisi , mengkonsep acara, menenukan talent pengisi acara dan format. Proses produksi merupakan blue print bagi para tim kreatif untuk menginterpretasikan ide , konsep program dan kreativitas dalam penyusunan format acara, menentukan format atau menentukan para talent (pengisi acara yang harus mampu menjadikan content lebih menarik. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah proses produksi yaitu proses pelaksanaan konsep pra produksi, yang dikenal dengan tahapan produksi. Sulitnya suatu tim kerja dapat dilihat dari berjalannya konsep shooting dengan baik. Bagi para tim kreatif, eksekusi kegiatan produksi merupakan hal yang paling krusial. Masing masing tim kreatif harus mampu bekerja dengan baik, fokus pada tugas masing masing, dan harus mampu berkoordinasi dengan baik. Memastikan bahwa segala perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan selama proses produksi telah siap. Treatment program perlu diperhatikan terlebih apabila program tersebut ditayangkan secara langsung dan berdurasi tayang panjang. Pembuatan keputusan harus mampu dilaksanakan dengan tepat dan dapat dikoordinasikan dan dipahami secara bersama. Hal ini berlaku untuk content yang ditayangkan secara live maupun taping. Namun, program yang dibuat oleh IVM terutama pada prime time merupakan program live yang membutuhkan kehati hatian dan ketelitian dalam bekerja dari masing masing tim kreatif. Tahap terakhir dari aktivitas penciptaan content program adalah proses pasca produksi. Hasil shooting diserahkan kepada tim editing yang akan melakukan make up terhadap isi gambar dan kualitas gambar, kualitas suara dan selanjutnya diserahkan kepada tim Quality control (QC) untuk diamati apakah content layak untuk ditayangkan. Rangkaian ini merupakan rangkaian penting bagi uji kapabilitas kelompok kreatif content program.

Dari hasil aktivitas selama rangkaian produksi program dilakukan didapat beberapa hal penting bahwa dalam menciptakan suatu program perlu mempelajari selera masyarakat. Ide kreatif dapat dilakukan dengan memperhatikan tayangan tayangan kompetitor atau tayangan televisi luar. Namun perlu memperhatikan orisinalitas dari content yang akan dibuat. Komparasi program dilakukan sebagai petunjuk bagaimana selera masyarakat terhadap sebuah jenis tayangan dan genre penontonnya. Ide kreatif dapat juga diperoleh melalui novel yang diangkat dalam suatu kisah sinetron ataupun pengalaman dari seseorang atau tokoh untuk dapat dikemas dalam bentuk tayangan menarik. Format program acara televisi yang ada diberbagai belahan dunia dapat menjadi inspirasi dalam penciptaan program bagi para tim kreatif televisi. Dalam  kelompok kreatif ini, ritme kerja yang begitu padat dan cepat membuat para tim kreatif harus mamiliki ketangguhan dan kemampuan secara fisik maupun non fisik karena pada dasarnya kerja kreatif pada tim produksi adalah proses menyeimbangkan tiga kemampuan yaitu sintetik, analisis dan praktikal yang dapat dikembangkan bersamaan. Sintetik merupakan kemampuan untuk membangkitkan ide baru dan menarik, Analisis merupakan kemampuan untuk berfikir kritis , kemampuan praktikal merupakan kemampuan untuk menerjemahkan teori ke praktik dan ide abstrak pada konsep praktikal.

Proses kreatif dalam industri televisi merupakan tahapan penting dalam menciptakan hasil kerja yang menarik, inovatif dan marketable. Dasar dari sebuah proses kreatif adalah mengubah ide dalam wujud nyata atau konkret sebuah karya. Proses kreatif dipengaruhi dari dalam internal masing masing individu karena berkenaan dengan emosi, selera dari personil. Emosi akan mempengaruhi proses kreatif. Semakin baik emosional seseorang maka kemampuan untuk berkarya juga akan semakin baik.

Pada kelompok kerja divisi kreatif sudah menjadi satu kepahaman bersama jika pemimpin harus mampu menerima ide yang disampaikan oleh timnya. Gomez-Meija ( at al menyebutkan bahwa seorang Pemimpin atau atasan harus memiliki basis kekuasaan  yang kuat dalam kepemimpinannya, yaitu : (1) kekuasaan paksaan (coercive power) Kekuasaan yang didasarkan pada rasa takut , intimidasi yang dominan yamg menimbulkan ketakutan bagi bawahan (2) Kekuasaan penghargaan (reward Power), Pemimpin memberikan sesuatu seperti promosi atau status (3) Kekuasaan legitimasi ( Legitimate Power)  kekuasaan yang berasal dari wewenang formal dalam membuat keputusan pokok untuk memastikan batasan batasan tertentu.(4) Kekuasaan ahli (Expert Power) , kekuasaan yang datang dari Pimpinan yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan unik, yang diakui oleh orang lain untuk layak dihormati (5) Kekuasaan rujukan (reference power), kekuasaan yang didasarkan pada kepuasan seseorang dari hasil identifikasi dirinya sendiri dengan Pemimpin. Berdasarkan pada penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan suatu autoritas kewenangan yang berdaya dan berpengaruh. Maka, diperlukan gaya kepemimpinan yang mampu memberikan dampak yang positif bagi bawahan secara psikis. Dalam kepemimpinan kelompok kreatif seperti industri televisi, basis kepemimpinan dengan kekuasaan ahli (Expert Power) merupakan kepemimpinan yang sesuai untuk diterapkan. Menetapkan pola gaya kepemimpinan yang tepat juga perlu dilakukan.   Pimpinan menerapkan konsep kepemimpinan transformasional, demokratis dan situasional sesuai dengan kondisi yang ada. Usia dan latar belakang pimpinan tidak memberikan pengaruh besar terhadap hubungan komunikasi dan interaksi yang berlangsung sepanjang pimpinan mampu memberikan pengaruh positif pada saat bekerja. Pimpinan sebaiknya  mampu memberikan motivasi secara moril saat aktivitas kreatif berlangsung. Hal ini dapat memberikan pengaruh yang positif bagi segenap tim karena adanya support dari Pimpinan.

Etos kerja melalui konsep (Wirawan 2007)  dapat diukur dengan menggunakan sepuluh indicator yaitu (1) internal fokus control, yaitu meyakini bahwa nasib seseorang ditentukan oleh orang tersebut (2) Kerja sebagai suatu cara  untuk mencapai kebahagiaan hidup (3) komitmen terhadap pekerjaan (4) kerja keras merupakan sumber kesuksesan (5) bekerja merupakan investasi (6) manajemen waktu (7) ambisi untuk berprestasi dan maju (8) disiplin dalam kerja (9) kejujuran dalam melaksanakan tugas dan menghindari konflik interest (10) kepercayaan bahwa kerja memberikan kontribusi pada moral individu serta kesejahteraan dan keadilan. Pekerjaan kreatif dipengaruhi oleh tim yang ada didalamnya. Bekerja dengan maksimal merupakan bagian dari tanggung jawab tim. Tim harus mampu berkontribusi dengan baik dalam bekerja. Etos kerja berperan dalam hasil akhir atau keluaran kerja. Kreativitas yang tinggi didukung dengan etos kerja yang baik dan menghasilkan karya yang juga memiliki kualitas. Etos kerja merupakan bagian yang layak menjadi perhatian untuk keberhasilan suatu institusi. Etos kerja dalam pribadi tim kreatif erat hubungannya dengan kepribadian, perilaku dan karakternya. Etos kerja dalam tim kreatif di Indosiar dapat ditumbuhkan dengan cara (1) menumbuhkan sikap optimis yaitu mengembangkan semangat dalam diri masing masing anggota tim (2) memupuk sikap optimis (3) memotivasi diri untuk bekerja lebih maju keberanian untuk memulai ; (1) tidak membuang atau menghabiskan waktu dengan bermimpi (2) tidak kuatir dan tidak menakuti kegagalan (3) mengubah kegagalan menjadi sukses, kerja waktu (1) menghargai dan mampu memanfaatkan waktu (2) tidak cepat merasa puas. Fokus dan konsentrasi pada pekerjaan , memiliki komitmen, inisiatif,memiliki prakarsa dalam bekerja. Etos kerja  positif  di tim kreatif terkait erat dengan  modal organisasi dengan nilai kepercayaan untuk mencapai visi dan misi secara konsisten melalui norma nilai kerja.

Kebutuhan untuk memiliki tim kerja yang baik dalam kelompok kerja menjadi suatu kebutuhan. Memiliki tim yang menyenangkan dan kooperatif sangat penting untuk mendukung semangat dalam bekerja. Syarat menjaga kekompakan adalah dengan komunikasi intens sesama anggota tim. Prinsip ‘the show must go on” merupakan hal yang biasa dalam tim produksi. Salah satu budaya kerja yang berlangsung secara alamiah di tim kreatif adalah pembagian kerja. Pembagian kerja dalam tim  kreatif dibagi sesuai dengan kapasitas , ketrampilan dna kemampuan yang dimiliki oleh tim produksi.

Hal terpenting dalam industri yang mengedepankan kreativitas sebagai produk adalah tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab, ide kreatif yang telah diproses dan dieksekusi akan kehilangan maknanya. Tanggung jawab adalah kewajiban untuk melakukan tugas atau kegiatans sebagaimana ditetapkan. Robbins dan Coulter (2016) menjelaskan bahwa pengertian tanggung jawab adalah ketika manajer menggunakan otoritasnya memberikan tugas kepada karyawan, karyawan mengambil kewajiban untuk melakukan tugas yang diberikannya  kewajiban ini dikenal sebagai tanggung jawab.  Bateman dan Snell (2007) mendefinisikan responsibility sebagai :The assignment of Task that an employee is supposed to carry out, yaitu tanggung jawag adalah penugasan dari suatu tugas bahwa karyawan harus dapat melaksanankannya dengan baik. Pada Tim kreatif, setiap personil mendapat tugas dan merata sesuai dengan kapasitas masing masing. Anggota tim kreatif menyelesaikan tugas sesuai dengan arahan dan jadwal yang diberikan.

Inti dari kerja kreatif adalah bahwa setiap aktivitas kerja membutuhkan tanggung jawab, perhatian, kontribusi, kerjasama dan kepedulian. Individu dalam tim kreatif bertanggung jawab dan harus mampu berdedikasi secara total terhadap pekerjaan. Tanggung jawab menjadikan pekerjaan akan berhasil dan mencapai kinerja tinggi.

Pimpinan dalam industri kreatif memiliki peranan dalam membentuk budaya kerja. Pimpinan dalam unit kreatif berperan melakukan monitoring setiap pekerjaan. Monitoring dapat dilakukan melalui pengawasan langsung maupun tidak langsung dari awal pra produksi, produksi dan pasca produksi. Berkenaan dengan pendelegasian wewenang yang sifatnya pengambilan keputusan sepenuhnya dilakukan oleh atasan, sedangkan untuk hal yang bersifat urgensi di lapangan berkaitan dengan proses produksi umumnya biasa dilakukan bersama sama oleh tim secara mufakat. Pendelegasian wewenang dapat dilakukan berdasarkan kondisi dilapangan dan urgenitas dalam pengambilan keputusan. Namun, biasanya dalam kelompok kerja kreatif pimpinan tetap melakukan proses monitoring secara langsung dari aspek aktivitas produksi.

Proses pembentukan budaya kerja kreatif membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membentuknya menjadi budaya. Budaya kerja yang terbentuk dalam tim kreatif melalui tahapan (1) tahap komitmen yaitu kemauan hati untuk bekerja , bekerja berdasarkan SOP, semangat dalam bekerja dan brsikap (2) membangun etos kerja dengan membiasakan untuk bekerja sesuai target, cepat dan tuntas. (3) memaknai cara kerja yang terindikasi melalui pemahaman, penghayatan, rasa suka dan senang menikmati pekerjaan (4) tahap adaptasi , yaitu pembiasaan yang sifatnya terus menerus sehingga membentuk karakter kerja . (5) Tahap refleksi , yaitu tahap penyadaran bahwa nilai nilai kerja telah menjadi gaya hidup yang membuat pegawai memahami peran dan tugasnya. Mampu memahami dan menyesuaikan diri terhadap tim kerja

Budaya kerja dalam industri kretif cenderung bersifat fleksibel. Dalam pemaknaannya fleksibel dimaksud sebagai

Dalam konsep budaya kerja tim kreatif  perlu diperhatikan pula idealisme dan orisinalitas untuk menghasilkan program yang berbeda, maka dibutuhkan orisinalitas dalam merealisasikan ide dari konsep awal brainstorming pada saat proses pra produksi. Aktivitas produksi merupakan aktivitas yang kompleks dalam kreativitasnya. Content program yang unggul dihasilkan dari kemampuan tim yang handal dalam mengkonsep program. Pemimpin dalam tim produksi harus memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam memimpin dan memerankan dirinya sebagai pimpinan dalam satu kondisi tertentu dan sebagai follower dalam situasi tertentu. Kemampuan dalam menginterpretasikan visi tim kreatif menjadi hal dominan dalam konteks kepemimpinan pada tim kreatif. Selain itu pimpinan juga harus memiliki daya inovasi yang kuat untuk mampu memberikan influensi positif bagi timnya.

Etos kerja yang baik sedikit banyak juga terpengaruh  dari refleksi peran pemimpin dan interaksi antar tim. Etos kerja muncul dari kesadaran untuk menemukan kemampuan dan kapabilitas dari para personil tim kreatif. Etos kerja secara langsung akan memunculkan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan dan tugas yang diberikan.  Menumbuhkan mentalitas kerja yang baik dengan mengembangkan pola kerja yang baik, kerjasama yang terkoordinasi, dan kemufakatan untuk mencapai hasil kerja yang maksimal.

Pengembangan sumber daya manusia dibidang broadcasting televisi selanjutnya haruslah memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan oleh user, utamanya bagi para pekerja kreatif. Saat ini tantangan bagi para pekerja kreatif adalah kemampuan untuk berinovasi mengembangkan ide kreatif baru melalui proses kreatif yang tiada henti juga harus memiliki kemampuan dalam pengoperasional teknologi informasi sebagai bagian dari tugas dan ketrampilan yang dituntut dalam bekerja. Temuan tentang budaya kerja pada tim kreatif merupakan indikasi dari hasil temuan Ndraha (2014)  yaitu merupakan kebiasaan, peraturan yang bersifat mendisiplinkan dan memudahkan sistematika kerja dan nilai nilai atau penghayatan yang dimaknai dari setiap personil kerja.

Penelitian ini mendapatkan temuan bahwa pimpinan memiliki peranan yang bergeser sebagai decision maker atau penguasa utama dalam kelompok  dapat menjadi mitra yang memiliki fungsi sebagai coordinator. Rekan kerja lebih berperan sebagai teman diskusi dan tim yang menyenangkan, sempitnya jarak formalitas antar personil bahkan dengan pimpinan. Interaksi yang baik ini akan menciptakan dan membentuk budaya kerja yang baik ke depan.

Paradigma yang sebaiknya perlu diubah adalah selama ini pekerja kreatif hanya direkrut dengan proses yang sama dan cenderung conservative. Maka perlu dibuat sistem perekrutan yang lebih mengacu pada pendekatan kebutuhan tim kreatif yang sesuai dengan tuntutan dunia broadcasting televisi yang semakin kompleks dan berkembang dan kompetisi yang semakin massif. SDM kreatif industri televisi harus berbasis kompetensi, penguasaan skills yang baik dan updating teknologi, karakter yang kuat dan memiliki kapabilitas untuk bekerja tim.

Simpulan dari  hasil penelitian ini adalah bahwa Proses kreatif dipengaruhi antara lain oleh kerjasama dan koordinasi dengan baik antar tim kreatif. Koordinasi tersebut membutuhkan rekan kerja dan tim yang solid, teman seprofesi yang memberikan dukungan dengan bertukar informasi dan teknologi, media informasi yang terbuka, kesempatan untuk belajar dan memahami teknologi peralatan bidang broadcasting dengan memberikan peluang untuk belajar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Pimpinan tim kreatif menerima ide yang disampaikan oleh anggota timnya. Pimpinan juga menawarkan alternatif  dan solusi dalam membuat keputusan berkenaan dengan ide kreatif yang dibuat dan Pimpinan dapat berperan fleksibel sebagai mitra kerja.

Etos kerja tim kreatif ditumbuhkan melalui: mengembangkan sikap optimis, berani untuk fokus dan konsentrasi pada pekerjaan, kesadaran untuk mengerti pekerjaanya, semangat, kemauan, komitmen, inisiatif, produktif, peningkatan proses, dan  cara pandang tentang bekerja.

Budaya kerja yang berlangsung secara alamiah di tim kreatif adalah pembagian kerja. Pembagian kerja di tim kreatif telah dibagi sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki oleh tim. Tim kreatif  menerima tanggung jawab secara kolektif untuk menyelesaikan tugas.  Terjadi pergeseran paradigma peran pemimpin, dari seorang yang berperan sebagai penguasa tunggal atas semua arahan di bidang pekerjaan, menjadi seorang mitra yang fungsinya pada koordinasi agar pekerjaan di tim kreatif dapat berjalan baik.

Pada tim kreatif, untuk menumbuhan budaya kerja, struktur kerja yang sifatnya hierarkis sebaiknya dihilangkan.Audit organisasional perlu dilakukan untuk menemukan ide yang tepat perlu dilakukan, tim kreatif membutuhkan sumber daya uang efektif untuk memutuskan mata rantai produksi program yang panjang dan menjadi leader produksi. Pengelolaan konflik yang mengakomodir kepentingan tim kreatif perlu dilakukan.

Model Maletzke , model ini dikemukan oleh ilmuwan Jerman Maletzke ini, di awal perkembangannya secara sederhana menggambarkan peta media massa :”bawah tanah” di Berlin. Gatekeeper dalam media massa memiliki peranan sangat vital dalam melayani konsumennya. Faktanya, media massa muncul untuk meyakinkan tingkah laku, nilai yang muncul pada setiap perilaku. Bagaimana sebuah scene bagian dalam suatu potongan cerita dikerjakan berdasarkan pada penonton tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi.

Daftar Pustaka

Bateman, S.Thomas and Scott A.Snell, Management. (2007). USA : Thomson South-Western.

 

Dessler, Gary and Tan Chwee Huat, Human Resources Management an Asian Perspective. (2006) Singapore: Pearson Prentice Hall

 

Ndraha, Taliziduhu, Teori Budaya Organisasi.(1986). Jakarta : Rineka Cipta.

Robertz, Louis, David B, Balkin, dan Robert L.Cardy, Managing Human Resources.      (2007). New Jersey : Pearson Education Inc.

 

Robbins, Stephen dan Mary Coulter, Management. (2016). Essex: Pearson Education Limited.

 

 

Jurnal

Brittany Dewey.(2011). “Network Television Broadcasting during U.S. Crises: Its Evolution, Execution, and Effects” , The Elon Journal of Undergraduate Research in Communication, Vol.2, No.2.

 

Irina Eduardovn Kulikovskaya, Alina Yurievna Parekhoda (2015), “The Model of Media Competence Formation of Future Workers in Film and Television Industries by Means of a Foreign Language “,International Review of Management and Marketing, vol.5, p.11.

 

Raul Rodriguez Ferrandiz (2011).”From Cultural Industries to Entertainment and Creative Industries: The Boundaries of The Cultural Field” :Communicar,Vol.14, p.12

 

Vinicius Carvalho Cardoso, Gabriel Bouhid Barradas (2016), “Creativity, Production Engineering and Entertainment Industry”, Brazillian Journal Of Science and Technology , Vol.3, p.20

Zybnek Pitra , Anna Zauskova.(2014). “Communication In Knowledge : Transfer Management”, Vol.5, No.2, h.8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A COMMENT

All fields are mandatory.